Jumlah Donatur
Jumlah Program Kebaikan
Saku Peduli Umat (SPU) diresmikan bertepatan dengan Peringatan Hari Santri Nasional yang kelima pada hari Kamis, 22 Oktober 2020. Peresmian tersebut diadakan dalam konferensi alumni Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul Uluum Lido bersama pimpinan pesantren, Tubagus Bay Amri Hakim, M.Ed.
Gerak pendirian Saku Peduli Umat dalam membangun bangsa dengan membantu Para Fakir Miskin, Yatim-piatu dan Dhu'afa lantas tidak hanya didasari oleh semangat cinta dan keinginan membantu sesama, tapi juga menjadi tugas dan kewajiban yang sudah diperintahkan Allah SWT dalam berbagai firmannya. Salah satunya Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
(البقرة: 254)
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)
Dalam memaknai ayat ini, Syeikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi menekankan sinergi persatuan orang-orang dermawan dalam memajukan ummat dan bangsa. Ia mengatakan bahwa para Aghniya (orang-orang kaya atau yang memiliki harta berlebih) mempunyai kewajiban dalam menjaga ummat dengan harta mereka. Mereka bertugas mencerdaskan bangsa dengan memberikan pendidikan, menyembuhkan yang sakit dengan memberikanya obat, dan apapun yang bersinggungan dengan kemaslahatan umum. Jika tidak maka akan ada banyak kerusakan dan kejahatan yang terjadi. Kaada Al-faqru an yakuna kufran (kefaqiran itu bisa membawa seseorang terjerumus dalam kekufuran)
Bila menelisik ayat ini lebih jauh, ditegaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk berinfaq dan bersedekah sebelum datang hari tidak berguna lagi bermafaatnya sebuah bantuan dan pertemanan. La bay’un fihi walaa khullatuw wala syafaah. Yaitu hari kiamat. Pada hari tersebut tidak ada menolong seseorang kecuali harta yang ia infaqkan dan shodaqahkan.
Nabi bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له، رواه مسلم
Artinya: Apabila meninggal anak adam maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqah Jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. (HR. Muslim)
Dari sabda nabi ini, jelas kita dapat memahami kemanakah harta kita harus kita gunakan. Dalam pemaknaan hadist, terdapat tiga perkara yang akan menjadi amalan penolong bagi seseorang setelah ia wafat. Yaitu: Shodaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orangtuanya.
Bila diperhatikan secara sekilas, memang tiga perkara dalam hadist nabi ini adalah hal yang berbeda-beda. Tapi bila kita memperhatikan lebih seksama, ada benang merah yang mengikat antara 3 perkara ini, yaitu:
Doa anak yang sholeh adalah puncak interpretasi gambaran dari kebaikan seorang anak. Dan kebahagiaan orang tua ada pada kebaktian seorang anak kepadanya. Untuk membentuk jiwa dan karkter anak yang baik, sholeh, pintar, dan berbakti kepada kedua orang tua, maka dibutuhkan pembelajaran yang dapat menghantarkannya kepada gerbang sebuah ilmu. Dan menurut Imam Syafi’i Ilmu adalah cahaya. Cahaya yang mengantarkan manusia dari kegelapan menuju tempat yang terang benderang. Cahaya yang menjadikan manusia keluar dari kebodohan. Cahaya yang mampu membawa seseorang kepada kebaikan. Oleh karena itu, wajib bagi seseorang memberikan jalan bagi generasi setelahnya untuk dapat mencapai gerbang ini. Yaitu dengan memberikan fasilitas pendidikan yang memadai, mengobatinya dikala ia sakit, membantunya menggapai cita-citanya, dll. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk kebahagian anak seorang, tapi juga kebahagiaan dirinya.
Dalam memberikan standarisasi keberhasilan seorang pelajar, nabi tidak menjadikan peringkat atau ranking sebagai kesuksesan seseorang. Tapi nabi menjadikan nilai kebermanfaatan seseorang bagi orang lain adalah kunci dari keberhasilan orang tersebut. Keberhasilan bukan terletak pada nomor peringkat dan angka raport. Menjadi manusia yang bermafaat terhadap sesama manusia adalah jalan yang harus ditempuh menuju sebuah kesuksesan. Diperlukan daya dan upaya untuk mencapai keberhasilan ini. Tidak cukup hanya faktor individual, faktor dukungan moral dan material juga diperlukan untuk mewadahi jalan keberhasilan seseorang menuju kebermafaatan ilmu.
Dari dua hal ini, dimanakah letak tugas kita dalam mewujudkan generasi bangsa yang berhasil, bermanfaat, nan mampu mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan?
Ya. Yaitu dengan shodaqah jariyah yang kita tuangkan kepada mereka generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan menuju indonesia yang maju dan sejahtera.
Bila diilustrasikan, maka kita akan menemukan hiararki piramida terbalik dalam benang merah hadist nabi ini. Yaitu Shodaqah sebagai jalan memfasilitasi agar anak menjadi seorang yang berhasil, anak yang berhasil diwujudkan dengan kebermafaatan ilmu, dan kebermafaat ilmu dituangkan dengan prilaku anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya.